Pada embun pagi di ubun-ubn
dan butirannya yang membasahi
sejuk segar dalam rasa
mata dimanjakan megahnya alam
Dingin sekitar hawa kesadaran
bersiklus menggapai rambatan cahaya
yang hadirkan berita dhuha
untuk hijaukan taman dunia
Kala terik sejajar tepat di atas
menginjak bayangan kehidupan
Dzuhur kabarkan rehat
sejenak gusur ambisi nafsu
Sebentar lalu sinarnya berjalan
bentuk sudut menuju ufuk
kumandang ashar-pun bergetar
dunia berganti ruang pra transisi
Senja semakin berwarna mesra
ditelan maghrib yang selalu misterius
peristiwa tukar menukar kunci dimensi
jiwapun ikut menyebrang alam
Tak selama waktu kedipan mata
sang isya jadi gerbang pembuka
digambarkannya gemerlap malam
langit dan rasi-rasi bintang menghiasi
Ketika aktivitas turut menurun
raga rebah lelah dalam kamar
terpejam bisu seiring mimpi
menanti besok dan kesempatannya
belum jua nyenyak itu lengkap
gejolak asa ketuk alam bawah
ditagihnya kesakralan tahajjud
yang mampu menggenggam dunia
Saat niat menjelma sadar
tibalah damai menyaksikan kesunyian
sanggup menembus berjuta makna
yang menyatu rasa bercinta tercinta
Bisik batin sebut asma-asma
olahan hati pasrah mohon arah
dimaafkanlah dipantaskanlah
semakin malam semakin mesra
Lafadz cinta yang bebas di udara
nikmat tanpa terasa pakasakan malu
kalahkan segala peluang godaan
dan subuh-pun membongkar angkasa
Ketika harus mendirikan shalat
ketika ada tawaran kebahagiaan
ketika berdirinya shalat lebih baik dari tidur
seketika itu juga tergerak kehambaan
Subuh itu bernilai bumi dan isinya
selalu menjadi pembuka harapan
dihadirkannya kesucian cinta
didatangkannya kemuliaan cinta
Tatkala subuh terlepas dengan indah
pagi yang sejuk tadi memeluk tubuh
dihadapkannya kembali kefanaan nafsu
karena hidup adalah selepas waktu
Semoga cinta bertahan (catatan hp).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar