Kamis, Februari 05, 2015

Untukmu Ibu (diam-diam)

Semoga ingatan ini tak selip jauh
hingga dapat kutuliskan ungkapan
kemesraan yang menggunung tinggi
puncak cinta tertinggi tentang sosokmu

Memoar-memoar nan indah terpatri
erat lengket menempel dikubus hati
sulit terhapus apalagi sekadar dilupakan
jiwamu yang tegar bertahan cinta

Ya, semua tahu suamimu tiada ada
sudah hampir delapan musim berganti
namun tak semua mampu mengerti
bahwa cintamu untuknya abadi

Doamu tak henti menyebut namanya
sujudmu bermuara kasih setia
engkau abdikan ikrar kala akad dulu
hanya padanya kau berpeluk cinta

Allah panggil suamimu ke Arsy-Nya
tapi tetap ijinkanmu ciumi bayangnya
Allah minta suamimu lewat cara-Nya
engkau pasrah karena engkau cinta

***

Dari atas tangga kupandangi perih
jalanmu tertatih sangat pelan
pelupuk mataku tak bohong bersaksi
melihat betapa engkau rindu dia

Malam-malammu yang sepi dingin
tidurmu yang sendiri sebantal
dudukmu tertahan rasa ingin
pun kadang engkau menatap kosong

Sejenak kucermati, tebakku malu
engkau warnai anganmu tentangnya
penasaran aku dekati imajimu
dan ternyata lamunanmu masih tentangnya

Jangan kau sembunyikan
jangan kau tutupi
terlebih kau ingkari
cinta yang amat dalam itu

Senyumlah kini
tertawalah walau berlinang air mata
raihlah kami beserta cinta milikmu
buang duka sedih sedan merindumu itu

Kami akan memeluk
kami ingin mencium
meskipun mustahil tergantikan
beribu-ribu kasih cinta suamimu yang juga ayah kami

Bu, sudah
bahagialah disenjamu sekarang

Habis dimarahi...

Tidak ada komentar: