Liukkan jalan membimbing emosi
yang sabdakan nikmatnya berproses
naik menjulang, turun menerjun
tak ada diam pada ceritanya
Sejuta duka lalui serat terkecil
goresannya tinggalkan sesak dihati
bersemayam lama enggan pergi
hari terganti dalam detak kecemasan
Tak ada nafas yang tak teruji
semuanya berkisah sedih dilubuk
ditempa, digilas, dibenturkan
bahkan terlihat akan dimusnahkan
Malu bertanya kapan akhirnya
keluhan adalah batas kesabaran
hanya memangku senyum pura-pura
sekadar untuk tampak luarnya saja
Aduh, susahnya...
Sila kaki merangkai lamunan
jelajahi ruang waktu mengoreksi
sekujur tubuh bergetar kalut
berasa kematian asa didepan mata
Sampai pada titik paling rendah
tamparan bijak bangunkan harap
baranya terkipas siap membakar jiwa
dan, akhirnya momentum tercipta lagi
Pasrah tertunduk, pasti memohon
ternyata diam itu perlu diresapi
maknanya luas sejagat raya
kirimkan sinyal-sinyal keyakinan
Tegak berdiri memandang tajam
hati dan koloninya gembira
bersorak sorai menunggu keputusan
gerangan apa langkah itu
Amboi, senangnya...
Atas namakan niat untuk memilih
isyaratkan hati agar yakin terpilih
layangkan doa syukur ketika dipilih
kerjakan penuh cinta pada pilihan
Pagi menyambut senyum renungan
malam yang kelam sirna seketika
penantian panjang terjawab sudah
merekah lebar jantungkan semangat
Akhirnya, tak ada lagi keraguan
yang kering menyakiti nyenyak tidur
sekarang warna cerah berganti
yang gambarkan nilai rasa bahagia
Hati dan jiwa tenang mengolah
alam bawah sadar isinya emas
matapun ikut melirik kebahagiaan
kini cinta telah mengubur duka
Duh, indahnya dunia-Mu ini...
Ilustrasi pelunasan hutang (catatan hp).
Sebagai tanah tempat aku berpijak menelusuri lorong-lorong kehidupan, sebagai air yang menyajikan kejernihan cintanya. Maka, kemanapun aku berproses, Molinow selalu "membawaku" pulang kembali. Dan, dengan tombol keyboard ini aku satukan cinta untuk hidup setia.
Jumat, April 10, 2015
Sabtu, Maret 28, 2015
Digiring Malam
Perasaanku bergejolak hebat
entah apa penyebabnya
seluruh ilmu kesadaran sirna
menolak dan tak mampu menakar
Mataku terbangun tajam
namun jiwa tertidur lelap
mata bisa memandang
jiwa sukar merasa
Sejenak ada lelah menggumam
mengudara bak taifun tagalog
dicarinya akal sejati itu
tapi sia saja tanpa arti
Aku bersandar dalam bimbang
ditengah kalutnya gelap malam
kusambangi satu persatu nilai
yang pernah ada tawarkan mimpi
Kepala ini miring ke kanan
ditumpahkannya sisa-sisa masa silam
digaruknya untaian memori itu
tentang sebulan sebelum ramadan
Betapa dahsyat goncangan kali ini
hatiku bisu, langkahku kaku
sepintas tentang ritual sujud pasrah
kembali terpampang bak layar film
Aku ingat pelajaran malam
misteri cinta yang selalu abadi
bersemayam ampunan dan syukur
yang pasti kian dekat diijabah
Aku digiring malam yang suci
cinta itu tak pamrih apa-apa
jiwaku menangis pilu
bungkam raga yang masih nista
Aku digiring malam yang indah
konon sunyi sepi namun nikmat
kembali bersua rasa batin
harus kutemukan waktu itu
Malam semakin menggelinding
digulirnya suasana tanpa rasa
aku diam hanyut tak berdaya
tapi erat dalam genggam asa dihati
Akhir agustus 2014 (catatan hp)...
entah apa penyebabnya
seluruh ilmu kesadaran sirna
menolak dan tak mampu menakar
Mataku terbangun tajam
namun jiwa tertidur lelap
mata bisa memandang
jiwa sukar merasa
Sejenak ada lelah menggumam
mengudara bak taifun tagalog
dicarinya akal sejati itu
tapi sia saja tanpa arti
Aku bersandar dalam bimbang
ditengah kalutnya gelap malam
kusambangi satu persatu nilai
yang pernah ada tawarkan mimpi
Kepala ini miring ke kanan
ditumpahkannya sisa-sisa masa silam
digaruknya untaian memori itu
tentang sebulan sebelum ramadan
Betapa dahsyat goncangan kali ini
hatiku bisu, langkahku kaku
sepintas tentang ritual sujud pasrah
kembali terpampang bak layar film
Aku ingat pelajaran malam
misteri cinta yang selalu abadi
bersemayam ampunan dan syukur
yang pasti kian dekat diijabah
Aku digiring malam yang suci
cinta itu tak pamrih apa-apa
jiwaku menangis pilu
bungkam raga yang masih nista
Aku digiring malam yang indah
konon sunyi sepi namun nikmat
kembali bersua rasa batin
harus kutemukan waktu itu
Malam semakin menggelinding
digulirnya suasana tanpa rasa
aku diam hanyut tak berdaya
tapi erat dalam genggam asa dihati
Akhir agustus 2014 (catatan hp)...
Minggu, Februari 08, 2015
Selepas Waktu
Pada embun pagi di ubun-ubn
dan butirannya yang membasahi
sejuk segar dalam rasa
mata dimanjakan megahnya alam
Dingin sekitar hawa kesadaran
bersiklus menggapai rambatan cahaya
yang hadirkan berita dhuha
untuk hijaukan taman dunia
Kala terik sejajar tepat di atas
menginjak bayangan kehidupan
Dzuhur kabarkan rehat
sejenak gusur ambisi nafsu
Sebentar lalu sinarnya berjalan
bentuk sudut menuju ufuk
kumandang ashar-pun bergetar
dunia berganti ruang pra transisi
Senja semakin berwarna mesra
ditelan maghrib yang selalu misterius
peristiwa tukar menukar kunci dimensi
jiwapun ikut menyebrang alam
Tak selama waktu kedipan mata
sang isya jadi gerbang pembuka
digambarkannya gemerlap malam
langit dan rasi-rasi bintang menghiasi
Ketika aktivitas turut menurun
raga rebah lelah dalam kamar
terpejam bisu seiring mimpi
menanti besok dan kesempatannya
belum jua nyenyak itu lengkap
gejolak asa ketuk alam bawah
ditagihnya kesakralan tahajjud
yang mampu menggenggam dunia
Saat niat menjelma sadar
tibalah damai menyaksikan kesunyian
sanggup menembus berjuta makna
yang menyatu rasa bercinta tercinta
Bisik batin sebut asma-asma
olahan hati pasrah mohon arah
dimaafkanlah dipantaskanlah
semakin malam semakin mesra
Lafadz cinta yang bebas di udara
nikmat tanpa terasa pakasakan malu
kalahkan segala peluang godaan
dan subuh-pun membongkar angkasa
Ketika harus mendirikan shalat
ketika ada tawaran kebahagiaan
ketika berdirinya shalat lebih baik dari tidur
seketika itu juga tergerak kehambaan
Subuh itu bernilai bumi dan isinya
selalu menjadi pembuka harapan
dihadirkannya kesucian cinta
didatangkannya kemuliaan cinta
Tatkala subuh terlepas dengan indah
pagi yang sejuk tadi memeluk tubuh
dihadapkannya kembali kefanaan nafsu
karena hidup adalah selepas waktu
Semoga cinta bertahan (catatan hp).
dan butirannya yang membasahi
sejuk segar dalam rasa
mata dimanjakan megahnya alam
Dingin sekitar hawa kesadaran
bersiklus menggapai rambatan cahaya
yang hadirkan berita dhuha
untuk hijaukan taman dunia
Kala terik sejajar tepat di atas
menginjak bayangan kehidupan
Dzuhur kabarkan rehat
sejenak gusur ambisi nafsu
Sebentar lalu sinarnya berjalan
bentuk sudut menuju ufuk
kumandang ashar-pun bergetar
dunia berganti ruang pra transisi
Senja semakin berwarna mesra
ditelan maghrib yang selalu misterius
peristiwa tukar menukar kunci dimensi
jiwapun ikut menyebrang alam
Tak selama waktu kedipan mata
sang isya jadi gerbang pembuka
digambarkannya gemerlap malam
langit dan rasi-rasi bintang menghiasi
Ketika aktivitas turut menurun
raga rebah lelah dalam kamar
terpejam bisu seiring mimpi
menanti besok dan kesempatannya
belum jua nyenyak itu lengkap
gejolak asa ketuk alam bawah
ditagihnya kesakralan tahajjud
yang mampu menggenggam dunia
Saat niat menjelma sadar
tibalah damai menyaksikan kesunyian
sanggup menembus berjuta makna
yang menyatu rasa bercinta tercinta
Bisik batin sebut asma-asma
olahan hati pasrah mohon arah
dimaafkanlah dipantaskanlah
semakin malam semakin mesra
Lafadz cinta yang bebas di udara
nikmat tanpa terasa pakasakan malu
kalahkan segala peluang godaan
dan subuh-pun membongkar angkasa
Ketika harus mendirikan shalat
ketika ada tawaran kebahagiaan
ketika berdirinya shalat lebih baik dari tidur
seketika itu juga tergerak kehambaan
Subuh itu bernilai bumi dan isinya
selalu menjadi pembuka harapan
dihadirkannya kesucian cinta
didatangkannya kemuliaan cinta
Tatkala subuh terlepas dengan indah
pagi yang sejuk tadi memeluk tubuh
dihadapkannya kembali kefanaan nafsu
karena hidup adalah selepas waktu
Semoga cinta bertahan (catatan hp).
Lentera Diujung Rasa
Ramadan kali ini sungguh indah
puja-puji syukur bertaburan berserakan
tak henti disetiap langkah
tanpa syarat tanpa pamrih
kesadaran akan luasnya nikmat
yang tak mampu otak menghitung
tiada hari berlalu percuma
dentingan waktu memberi takjub
Pun tatkala kantong berbunyi receh
enggan gentar hati memuja kuasa-Nya
alasan bukan jalan menuju ingkar
karena cinta-Nya sejuta warna
Desakan keadaan jepit jalur nafas
sesak tersendat macet tak berhembus
tapi asa, doa dan yakin lebih tebal
hingga mampu tuntaskan kewajiban
Kembali syukur itu menyentuh langit
tak mau ragu walau secuil biji
ada getar jiwa lentera yang memantik
diujung rasa menyala senyum bahagia
Seketika mata menuju tidur
sekejap batin bergelora manja
sedetik waktu kata terucap
terima kasih yang besar Ya Allah
Hutang terbayar sudah (catatan hp).
puja-puji syukur bertaburan berserakan
tak henti disetiap langkah
tanpa syarat tanpa pamrih
kesadaran akan luasnya nikmat
yang tak mampu otak menghitung
tiada hari berlalu percuma
dentingan waktu memberi takjub
Pun tatkala kantong berbunyi receh
enggan gentar hati memuja kuasa-Nya
alasan bukan jalan menuju ingkar
karena cinta-Nya sejuta warna
Desakan keadaan jepit jalur nafas
sesak tersendat macet tak berhembus
tapi asa, doa dan yakin lebih tebal
hingga mampu tuntaskan kewajiban
Kembali syukur itu menyentuh langit
tak mau ragu walau secuil biji
ada getar jiwa lentera yang memantik
diujung rasa menyala senyum bahagia
Seketika mata menuju tidur
sekejap batin bergelora manja
sedetik waktu kata terucap
terima kasih yang besar Ya Allah
Hutang terbayar sudah (catatan hp).
Kicau Mengusik
Dilema dua sisi pandang bertuan satu keadaan
Kebanyakan teman tergoda prestasi
aku memilih lebih cinta nilai-nilai
bukan sombong
cuma itulah pilihan
Mereka setengah mati ingin diakui
aku duduk bersila dan tersembunyi
bukan karena pngecut atau takut
hanya begitulah yang aku pelajari
Dilema dua sisi pandang bertuan satu keadaan
Teman sejawatku canggih modern
aku masih setia dengan nostalgi
bukan karena tak mampu
akunya yang tak mau
Mereka agungkan keindahan wujud
aku pertaruhkan keluhuran esensi
bukan cerita ala yunani kuno
hanya aku masih ingin belajar lagi
Dilema dua sisi pandang bertuan satu keadaan
Kawanku sebagian idamkan prospek
aku mencoba tafakur pada risalah hidup
setiap kita adalah pemimpin
dan khalifah dimuka bumi ini
Mereka asyik bersaing angka-angka
aku menelan keadaan apa adanya
bukan aku munafik menolak angka
aku pasti butuh
tapi, aku yakin aku lebih berharga dari itu
Dilema dua sisi pandang bertuan satu keadaan
Hampir semua kenalanku praktis romantis
kehidupan mereka sejalur kelaziman
aku berlari ke tepi
sendiri mengasingkan diri
Mereka cinta konservatisme jasmani
ijasah, pekerjaan, menikah, harta
aku cenderung bergaul dengan kesenyapan
bukan tak mau, pastilah aku mau
hanya caranya yang aku tak suka
Dilema dua sisi pandang bertuan satu keadaan
Sahabatku ganteng dan memesona
aku bernadi seonggok takdir
menahan diri untuk tak menonjol
bukan karena sok angkuh, sok tasawuf
hanya saja mungkin berbeda pola
Mereka memuja penisbahan sosok
aku tenggelam pada sorot lamunanku
bukan aku seorang penduga negatif
aku hanya sedang coba menafsirkan
Ah, tak tahulah...
siapa mereka siapa aku
kok, bisa tampak jurang perbedaan
mungkin aku yang sudah gila
gila sendiri menjadi orang yang tak serentak
Kumal, lesuh, rentan dan hina
aku hanya menahan keseimbangan
berusaha berdiri pada sisa energi ditumpuan kaki-kakiku
Teman dan sahabatku bertabur emas intan
sedang aku mati sunyi mengering
namun harum semerbak wangi nilaiku
tercium selama-lamanya
semoga begitu adanya kelak
Selasa pagi yang sudah terik (catatan hp).
Kebanyakan teman tergoda prestasi
aku memilih lebih cinta nilai-nilai
bukan sombong
cuma itulah pilihan
Mereka setengah mati ingin diakui
aku duduk bersila dan tersembunyi
bukan karena pngecut atau takut
hanya begitulah yang aku pelajari
Dilema dua sisi pandang bertuan satu keadaan
Teman sejawatku canggih modern
aku masih setia dengan nostalgi
bukan karena tak mampu
akunya yang tak mau
Mereka agungkan keindahan wujud
aku pertaruhkan keluhuran esensi
bukan cerita ala yunani kuno
hanya aku masih ingin belajar lagi
Dilema dua sisi pandang bertuan satu keadaan
Kawanku sebagian idamkan prospek
aku mencoba tafakur pada risalah hidup
setiap kita adalah pemimpin
dan khalifah dimuka bumi ini
Mereka asyik bersaing angka-angka
aku menelan keadaan apa adanya
bukan aku munafik menolak angka
aku pasti butuh
tapi, aku yakin aku lebih berharga dari itu
Dilema dua sisi pandang bertuan satu keadaan
Hampir semua kenalanku praktis romantis
kehidupan mereka sejalur kelaziman
aku berlari ke tepi
sendiri mengasingkan diri
Mereka cinta konservatisme jasmani
ijasah, pekerjaan, menikah, harta
aku cenderung bergaul dengan kesenyapan
bukan tak mau, pastilah aku mau
hanya caranya yang aku tak suka
Dilema dua sisi pandang bertuan satu keadaan
Sahabatku ganteng dan memesona
aku bernadi seonggok takdir
menahan diri untuk tak menonjol
bukan karena sok angkuh, sok tasawuf
hanya saja mungkin berbeda pola
Mereka memuja penisbahan sosok
aku tenggelam pada sorot lamunanku
bukan aku seorang penduga negatif
aku hanya sedang coba menafsirkan
Ah, tak tahulah...
siapa mereka siapa aku
kok, bisa tampak jurang perbedaan
mungkin aku yang sudah gila
gila sendiri menjadi orang yang tak serentak
Kumal, lesuh, rentan dan hina
aku hanya menahan keseimbangan
berusaha berdiri pada sisa energi ditumpuan kaki-kakiku
Teman dan sahabatku bertabur emas intan
sedang aku mati sunyi mengering
namun harum semerbak wangi nilaiku
tercium selama-lamanya
semoga begitu adanya kelak
Selasa pagi yang sudah terik (catatan hp).
Cinta Menjelang
Sekilat petir itulah pertemuan kita
kaget berdengung hilang sekejap
engkau hadir merona abu-abu
bertuan sesal parau kulirihkan
Bahwa,
lama sudah aku mencari
bentuk cinta yang gugah jiwa
satu belaian tak habis-habis
tanpa syarat tanpa tuntutan
Dimana,
jalanan aspal ataupun bebatuan
terjal menjulang curam menikam
lengkingan menukik tajam tikungan
semuanya bermukim pijakan buntu
Adakah proses tempaan yang lain?
***
Kesan sinis menjalar di wajah
seperti curiga rendahkan martabat
duri-duri cengeng berceceran kehampaan
belum seberapa proses bertuah
Cinta lebih daripada seungkap kata
pengorbanan berjuang harus geser ego
jalanlah terus melingkari bola jagad
sampai bertemu kagum besarnya alam
Masih ada gunung, hamparan padang
belum tentang ombak lautan
atau garis lintang bujur membentang
Celotehmu singkat berkoar-koar
kau tambahkan, kau serukan tanya
amarahmu melebihi pengetahuan
jujurmu terlalu dini dikobar angkuh
Sesederhana itu perjalanan cinta?
ketusmu seketika
Murah! Pasar! Obral!
telunjukmu menempel di dahiku
Engkau ceramahi aku bertubi-tubi
kias buih menguap rata berkhotbah
namun aku bukanlah pecundang teri
yang gentar diguncang sangkaan
***
Baiklah, baiklah...
apalagi?
coba sodorkan padaku?
kau contohkan saja semau-maumu
Gunung katamu?
padang dan gurun?
lautan bergelombang serta samudera?
jarak beribu-ribu satuan tempuh?
hanya itu yang kau punya?
Cuih!
remeh!
kelingkingku terpetik jempol
jawabku enteng di ujung lidah
Aku tempuh semuanya
SEMUANYA!
apapun medannya tak secuil kutu nyaliku ciut
se-centipun tak goyah surut
Hahaha,
kamu lucu bahkan cenderung lugu
contoh dimensimu sejengkal otak
layaknya tumpukan skripsi di perpustakaan kampus-kampus
Coba, apalagi yang bisa kau uji?
hei, bicaralah, ayo katakan!
peras akalmu, remas keras-keras
Atau memang kau cuma punya itu?
aduh, aku kasihan padamu
pada anatomi nilaimu
dasar picisan!
tamsilmu gampangan, pinggiran
Keadaan berbalik,
angin memilih lebih menyukaiku
sedang kamu?
berterima kasilah pada kesempatan
***
Dengarkan ini pasang telingamu
Aku butuh seusatu yang abadi
luhur setara udara
perbedaan kita sungguh kental
aku inginkan esensi, kau beri materi
Begini, dengarkan lebih saksama
Cinta itu bukan perangkat materi atau jasad
cinta itu bersemayam dalam sukma
aku mengejar resapan ruhnya
bukan numerik algoritma nol satu nol
Jangankan gunung lautan, gurun,
dan semua yang kau contohkan
Itu hanya kulit terluar dari deret lapisan segmen cinta
karena cinta jujur tak berumur
karena cinta berdzikir cinta
Ini bukan filosofis cinta
tapi tentang darimana filsafat itu berpijak
Aku mengarah ke sumber atom
inti cakrawala hati yang semesta
gugusan antarespun kalah luasnya
apalagi sekadar galaksi bima sakti
Logam mulia dibalik fenomena pelangi
tercipta dan bersembunyi triliunan pixel warna
kamera secanggih apapun tak sanggup mendeteksi
terlebih susunan daya belantara panca
Ahsanu taqwim kata Sang Pemiliknya
Itulah puncak paling pucuk
tak ada perumpamaan bisa mewakili
karena jika tergenggam relung nurani
niscaya tak rapuh luput walau hayat menjelang
Menunggu hatrick tahajjud (catatan hp).
kaget berdengung hilang sekejap
engkau hadir merona abu-abu
bertuan sesal parau kulirihkan
Bahwa,
lama sudah aku mencari
bentuk cinta yang gugah jiwa
satu belaian tak habis-habis
tanpa syarat tanpa tuntutan
Dimana,
jalanan aspal ataupun bebatuan
terjal menjulang curam menikam
lengkingan menukik tajam tikungan
semuanya bermukim pijakan buntu
Adakah proses tempaan yang lain?
***
Kesan sinis menjalar di wajah
seperti curiga rendahkan martabat
duri-duri cengeng berceceran kehampaan
belum seberapa proses bertuah
Cinta lebih daripada seungkap kata
pengorbanan berjuang harus geser ego
jalanlah terus melingkari bola jagad
sampai bertemu kagum besarnya alam
Masih ada gunung, hamparan padang
belum tentang ombak lautan
atau garis lintang bujur membentang
Celotehmu singkat berkoar-koar
kau tambahkan, kau serukan tanya
amarahmu melebihi pengetahuan
jujurmu terlalu dini dikobar angkuh
Sesederhana itu perjalanan cinta?
ketusmu seketika
Murah! Pasar! Obral!
telunjukmu menempel di dahiku
Engkau ceramahi aku bertubi-tubi
kias buih menguap rata berkhotbah
namun aku bukanlah pecundang teri
yang gentar diguncang sangkaan
***
Baiklah, baiklah...
apalagi?
coba sodorkan padaku?
kau contohkan saja semau-maumu
Gunung katamu?
padang dan gurun?
lautan bergelombang serta samudera?
jarak beribu-ribu satuan tempuh?
hanya itu yang kau punya?
Cuih!
remeh!
kelingkingku terpetik jempol
jawabku enteng di ujung lidah
Aku tempuh semuanya
SEMUANYA!
apapun medannya tak secuil kutu nyaliku ciut
se-centipun tak goyah surut
Hahaha,
kamu lucu bahkan cenderung lugu
contoh dimensimu sejengkal otak
layaknya tumpukan skripsi di perpustakaan kampus-kampus
Coba, apalagi yang bisa kau uji?
hei, bicaralah, ayo katakan!
peras akalmu, remas keras-keras
Atau memang kau cuma punya itu?
aduh, aku kasihan padamu
pada anatomi nilaimu
dasar picisan!
tamsilmu gampangan, pinggiran
Keadaan berbalik,
angin memilih lebih menyukaiku
sedang kamu?
berterima kasilah pada kesempatan
***
Dengarkan ini pasang telingamu
Aku butuh seusatu yang abadi
luhur setara udara
perbedaan kita sungguh kental
aku inginkan esensi, kau beri materi
Begini, dengarkan lebih saksama
Cinta itu bukan perangkat materi atau jasad
cinta itu bersemayam dalam sukma
aku mengejar resapan ruhnya
bukan numerik algoritma nol satu nol
Jangankan gunung lautan, gurun,
dan semua yang kau contohkan
Itu hanya kulit terluar dari deret lapisan segmen cinta
karena cinta jujur tak berumur
karena cinta berdzikir cinta
Ini bukan filosofis cinta
tapi tentang darimana filsafat itu berpijak
Aku mengarah ke sumber atom
inti cakrawala hati yang semesta
gugusan antarespun kalah luasnya
apalagi sekadar galaksi bima sakti
Logam mulia dibalik fenomena pelangi
tercipta dan bersembunyi triliunan pixel warna
kamera secanggih apapun tak sanggup mendeteksi
terlebih susunan daya belantara panca
Ahsanu taqwim kata Sang Pemiliknya
Itulah puncak paling pucuk
tak ada perumpamaan bisa mewakili
karena jika tergenggam relung nurani
niscaya tak rapuh luput walau hayat menjelang
Menunggu hatrick tahajjud (catatan hp).
Jumat, Februari 06, 2015
9 Juli
Siapapun engkau presidenku
jangan lupa Tuhanmu
ajarannya memudahkan langkahmu
petunjuknya penting diikut-sertakan
Siapapun engkau presidenku
jangan sumpahi janji palsumu
berkibarlah di tiang kejujuran
gebyar negeri sentosa makmur
Siapapun engkau presidenku
jangan tumpahkan lagi darah rakyat
yang meronta gila diujung duka
nafkahi seadil-adilnya perut mereka
Siapapun engkau presidenku
jangan hianati puasanya pemilih
engkau dipilih dibulan suci
elok nian jika hatimu seirama nuansa ramadan
Siapapun engkau presidenku
jangan datang hanya saat butuh suara
berjuanglah demi merah putih
warna jati diri bangsa kita ini
Siapapun engkau presidenku
maukah memilih untuk tak dipiih
mencoblos untuk suara lawan
ini cara menilai kelapangan jiwa
Siapapun engkau presidenku
jangan serakah menahkodai kapal
badai sudah lama menerjang ganas
menepilah dulu untuk tafakur
***
Siapapun engkau presidenku
tadi Brazil kalah telak dari Negaranya Hitler
kapten Messi dan para mener main besok
ah, kok, bicara piala dunia
Siapapun engkau presidenku
jangan hinakan tuanya burung garuda
ditubuhnya pancasila disematkan
lambang dan ikrar filosofis sejati
Siapapun engkau presidenku
jangan paksa diri jadi manusia setengah dewa
Iwan Fals liriknya mengada ada
bertahan tetap manusia saja susah
Siapapun engkau presidenku
jangan banggakan nama besarmu
Prabowo atau Joko Widodo
karena Rossi dan Rosy idolaku
alah, lebay...
Siapapun engkau presidenku
jangan sok mampu mewakili hati nurani kami
engkau tak akan mengerti jerit di hati kami
duka nestapa dan semrautnya hari-hari kami
Siapapun engkau presidenku
tolong jangan rampas kebahagiaan kami
cukup jadilah suami yang menafkahi istrinya
lahir dan batin serta penuh cinta
Siapapun engkau presidenku
bangunkan kembali semangat cinta
karena cintalah yang paling rohani
diantara kisah-kisah logistik palsu
***
Siapapun engkau presidenku
maaf, aku tak ikut berpesta
di belakang layar saja dan diam-diam
yang mendoakanmu sepenuh hati
Namun, siapapun engkau presidenku
tolong kecilkan volume sound di SD depan rumahku
tempat orang-orang memilihmu
pejaman mataku baru akan dimulai pagi ini
pun karena hutangku sudah cukup mengganggu malam-malamku
mengertilah...
Hargai jiwaku sebagai sesama manusia
karena jangankan perkara hutang itu
mengecilkan suara volume saja engkau tak akan pernah sanggup
apalagi mengatasi negara seribu pulau ini
Mimpimu besar, bak raksasa yang bisa menyundul atap langit
mungkin juga engkau dapat menggapai bintang-bintang indah
aku? ah, sudahlah, hanya sebaris nama pada selembar KTP
mimpiku? hmm, nyenyak saja sudah mantap
Tapi, aku mau mencintaimu dengan terpaksa
siapapun engkau presidenku
mulai dari beduk maghrib sebentar sore
sampai besok dan selama lima tahun ini
Semoga Indonesia jaya (catatan hp)...
jangan lupa Tuhanmu
ajarannya memudahkan langkahmu
petunjuknya penting diikut-sertakan
Siapapun engkau presidenku
jangan sumpahi janji palsumu
berkibarlah di tiang kejujuran
gebyar negeri sentosa makmur
Siapapun engkau presidenku
jangan tumpahkan lagi darah rakyat
yang meronta gila diujung duka
nafkahi seadil-adilnya perut mereka
Siapapun engkau presidenku
jangan hianati puasanya pemilih
engkau dipilih dibulan suci
elok nian jika hatimu seirama nuansa ramadan
Siapapun engkau presidenku
jangan datang hanya saat butuh suara
berjuanglah demi merah putih
warna jati diri bangsa kita ini
Siapapun engkau presidenku
maukah memilih untuk tak dipiih
mencoblos untuk suara lawan
ini cara menilai kelapangan jiwa
Siapapun engkau presidenku
jangan serakah menahkodai kapal
badai sudah lama menerjang ganas
menepilah dulu untuk tafakur
***
Siapapun engkau presidenku
tadi Brazil kalah telak dari Negaranya Hitler
kapten Messi dan para mener main besok
ah, kok, bicara piala dunia
Siapapun engkau presidenku
jangan hinakan tuanya burung garuda
ditubuhnya pancasila disematkan
lambang dan ikrar filosofis sejati
Siapapun engkau presidenku
jangan paksa diri jadi manusia setengah dewa
Iwan Fals liriknya mengada ada
bertahan tetap manusia saja susah
Siapapun engkau presidenku
jangan banggakan nama besarmu
Prabowo atau Joko Widodo
karena Rossi dan Rosy idolaku
alah, lebay...
Siapapun engkau presidenku
jangan sok mampu mewakili hati nurani kami
engkau tak akan mengerti jerit di hati kami
duka nestapa dan semrautnya hari-hari kami
Siapapun engkau presidenku
tolong jangan rampas kebahagiaan kami
cukup jadilah suami yang menafkahi istrinya
lahir dan batin serta penuh cinta
Siapapun engkau presidenku
bangunkan kembali semangat cinta
karena cintalah yang paling rohani
diantara kisah-kisah logistik palsu
***
Siapapun engkau presidenku
maaf, aku tak ikut berpesta
di belakang layar saja dan diam-diam
yang mendoakanmu sepenuh hati
Namun, siapapun engkau presidenku
tolong kecilkan volume sound di SD depan rumahku
tempat orang-orang memilihmu
pejaman mataku baru akan dimulai pagi ini
pun karena hutangku sudah cukup mengganggu malam-malamku
mengertilah...
Hargai jiwaku sebagai sesama manusia
karena jangankan perkara hutang itu
mengecilkan suara volume saja engkau tak akan pernah sanggup
apalagi mengatasi negara seribu pulau ini
Mimpimu besar, bak raksasa yang bisa menyundul atap langit
mungkin juga engkau dapat menggapai bintang-bintang indah
aku? ah, sudahlah, hanya sebaris nama pada selembar KTP
mimpiku? hmm, nyenyak saja sudah mantap
Tapi, aku mau mencintaimu dengan terpaksa
siapapun engkau presidenku
mulai dari beduk maghrib sebentar sore
sampai besok dan selama lima tahun ini
Semoga Indonesia jaya (catatan hp)...
Kamis, Februari 05, 2015
Untukmu Ibu (diam-diam)
Semoga ingatan ini tak selip jauh
hingga dapat kutuliskan ungkapan
kemesraan yang menggunung tinggi
puncak cinta tertinggi tentang sosokmu
Memoar-memoar nan indah terpatri
erat lengket menempel dikubus hati
sulit terhapus apalagi sekadar dilupakan
jiwamu yang tegar bertahan cinta
Ya, semua tahu suamimu tiada ada
sudah hampir delapan musim berganti
namun tak semua mampu mengerti
bahwa cintamu untuknya abadi
Doamu tak henti menyebut namanya
sujudmu bermuara kasih setia
engkau abdikan ikrar kala akad dulu
hanya padanya kau berpeluk cinta
Allah panggil suamimu ke Arsy-Nya
tapi tetap ijinkanmu ciumi bayangnya
Allah minta suamimu lewat cara-Nya
engkau pasrah karena engkau cinta
***
Dari atas tangga kupandangi perih
jalanmu tertatih sangat pelan
pelupuk mataku tak bohong bersaksi
melihat betapa engkau rindu dia
Malam-malammu yang sepi dingin
tidurmu yang sendiri sebantal
dudukmu tertahan rasa ingin
pun kadang engkau menatap kosong
Sejenak kucermati, tebakku malu
engkau warnai anganmu tentangnya
penasaran aku dekati imajimu
dan ternyata lamunanmu masih tentangnya
Jangan kau sembunyikan
jangan kau tutupi
terlebih kau ingkari
cinta yang amat dalam itu
Senyumlah kini
tertawalah walau berlinang air mata
raihlah kami beserta cinta milikmu
buang duka sedih sedan merindumu itu
Kami akan memeluk
kami ingin mencium
meskipun mustahil tergantikan
beribu-ribu kasih cinta suamimu yang juga ayah kami
Bu, sudah
bahagialah disenjamu sekarang
Habis dimarahi...
hingga dapat kutuliskan ungkapan
kemesraan yang menggunung tinggi
puncak cinta tertinggi tentang sosokmu
Memoar-memoar nan indah terpatri
erat lengket menempel dikubus hati
sulit terhapus apalagi sekadar dilupakan
jiwamu yang tegar bertahan cinta
Ya, semua tahu suamimu tiada ada
sudah hampir delapan musim berganti
namun tak semua mampu mengerti
bahwa cintamu untuknya abadi
Doamu tak henti menyebut namanya
sujudmu bermuara kasih setia
engkau abdikan ikrar kala akad dulu
hanya padanya kau berpeluk cinta
Allah panggil suamimu ke Arsy-Nya
tapi tetap ijinkanmu ciumi bayangnya
Allah minta suamimu lewat cara-Nya
engkau pasrah karena engkau cinta
***
Dari atas tangga kupandangi perih
jalanmu tertatih sangat pelan
pelupuk mataku tak bohong bersaksi
melihat betapa engkau rindu dia
Malam-malammu yang sepi dingin
tidurmu yang sendiri sebantal
dudukmu tertahan rasa ingin
pun kadang engkau menatap kosong
Sejenak kucermati, tebakku malu
engkau warnai anganmu tentangnya
penasaran aku dekati imajimu
dan ternyata lamunanmu masih tentangnya
Jangan kau sembunyikan
jangan kau tutupi
terlebih kau ingkari
cinta yang amat dalam itu
Senyumlah kini
tertawalah walau berlinang air mata
raihlah kami beserta cinta milikmu
buang duka sedih sedan merindumu itu
Kami akan memeluk
kami ingin mencium
meskipun mustahil tergantikan
beribu-ribu kasih cinta suamimu yang juga ayah kami
Bu, sudah
bahagialah disenjamu sekarang
Habis dimarahi...
Mengingatmu
Ada sejarah mengendap dalam hati
Terukir sebagai tanda cinta sejati
Yang tuntut keadaan menuju abadi
Penghubung rasa penyambung bakti
Walau sering kali terkapar pasrah
Kadang jua harus menangis sedih
Ingatan ditarik mundur sangat jauh
Tentang pribadi yang tak kenal pamrih
Dialah tiang besar yang sembunyi
Tak ragu baginya untuk mengayomi
Selalu saja bimbingan itu tulus hati
Kemilau cinta memancar hakiki
Dialah sandaran orang-orang terkasih
Tempat segenap jiwa ini mengeluh
Yang menampung jeritan-jeritan lirih
Meskipun dia hanya berdaya khalifah
Dialah manusia berjuluk sang jendral
Begitulah sematan dari anak terkecil
Anak lelakinya yang sungguh nakal
Namun kelak tersadarkan oleh ajal
Sehingga kini kala semua melupakan
Tentang sosoknya yang amat tampan
Berbalut penuh gemilang kamapanan
Anak kecilnya masih sediakan ingatan
Suatu tanda cinta penuh rasa
Membentuk kristal kekaguman jiwa
Yang selalu menyimpan pesannya
Karena waktu kalah berbanding asa
Ayah dalam ingatan...
Terukir sebagai tanda cinta sejati
Yang tuntut keadaan menuju abadi
Penghubung rasa penyambung bakti
Walau sering kali terkapar pasrah
Kadang jua harus menangis sedih
Ingatan ditarik mundur sangat jauh
Tentang pribadi yang tak kenal pamrih
Dialah tiang besar yang sembunyi
Tak ragu baginya untuk mengayomi
Selalu saja bimbingan itu tulus hati
Kemilau cinta memancar hakiki
Dialah sandaran orang-orang terkasih
Tempat segenap jiwa ini mengeluh
Yang menampung jeritan-jeritan lirih
Meskipun dia hanya berdaya khalifah
Dialah manusia berjuluk sang jendral
Begitulah sematan dari anak terkecil
Anak lelakinya yang sungguh nakal
Namun kelak tersadarkan oleh ajal
Sehingga kini kala semua melupakan
Tentang sosoknya yang amat tampan
Berbalut penuh gemilang kamapanan
Anak kecilnya masih sediakan ingatan
Suatu tanda cinta penuh rasa
Membentuk kristal kekaguman jiwa
Yang selalu menyimpan pesannya
Karena waktu kalah berbanding asa
Ayah dalam ingatan...
Selasa, Februari 03, 2015
Untittled
Mengartikan butir-butir kabar
Yang berurai tak sengaja
Punya cara juga gaya
Ada nikmat diduga-duga
Memang indah walau sebentar
Bertemu sapa jumpa muka
Sepadankan rasa hibur raga
Lewat sepintas seenaknya saja
Kusangka cinta yang berbunga
Kuduga rindu yang sempurna
Kutafsir sayang yang tercipta
Kunilai surga yang tiada tara
Mungkin salah bisa jadi benar
Mungkin nyata walau juga semu
Panggung digelar membentang
Dihadapan pembuat takdir
Asa dan angan terumbar
Semoga kelak aku dipantaskan
Bergegaslah...
Yang berurai tak sengaja
Punya cara juga gaya
Ada nikmat diduga-duga
Memang indah walau sebentar
Bertemu sapa jumpa muka
Sepadankan rasa hibur raga
Lewat sepintas seenaknya saja
Kusangka cinta yang berbunga
Kuduga rindu yang sempurna
Kutafsir sayang yang tercipta
Kunilai surga yang tiada tara
Mungkin salah bisa jadi benar
Mungkin nyata walau juga semu
Panggung digelar membentang
Dihadapan pembuat takdir
Asa dan angan terumbar
Semoga kelak aku dipantaskan
Bergegaslah...
Gelisah
Semalam aku berkenalan dengannya
Kuajak dia jelajahi dimensi otakku
Tawarannya sodorkan menu istimewa
Awalnya ragu tapi kukunyah juga
Kemarin aku jalan bernyanyi sendiri
Sangat menghibur lara teriak-teriak
Hampir kutabrak kenalan baru itu
Aku kaget dan maafku bertutur
Sebelumnya aku berjumpa senyum
Yang manja ukir lesung pipi
Cermatku hemat menerka sinis
Kenapa bisa hilang sekejap bisu
Sesaat sebelum terbang musnah
Disampingku ada tawa lebar lepas
Memojok sendiri sungkan bergaul
Ingin menegur tapi aku malu
Minggu setelahnya aku reriungan
Sesat tak menetu arah tujuan
Bahuku ditepuk pelan dari belakang
Menoleh riang aku terkagum-kagum
Siang tadi mataku berminyak tidur
Aku loncat tinggi ke angkasa
Berpegangan rajutan jala harapan
Melirik kebawah kutinggalkan janji
Kenalanku melambaikan kanannya
Bagai fatamorgana samar di gurun
Sehingga tergambar tarian alam
Pura-pura aku tak kenal dia
Maafkan aku hatiku...
Desir darahku sesak nafsu
Jasadku bermateri angka
Urat nadiku dialiri ego
Detak jantungku iramanya syahwat
Yang kuhirup konon intan dunia
Yang kuhembus kotoran ambisi
Langkahku menuju ingkar
Peganganku tiang hasrat
Sekujur tubuhku adalah mahkota-mahkota gengsi...
Aku fanakan peluang hidupku
Aku malu padamu, hatiku...
Pintaku,
Esok lusa dan entah sampai kapan
Teruslah rasuki aku, kelabui aku, pukul aku
Dan kita kembali bersama tuju
Seperti sedia engkau menemani tangisan pertamaku di dunia ini...
Tatkala sang pencipta mempersatukan kita untuk hidup dan mati hanya menghamba juga menyembah cinta-Nya
Gundah lagi (bukan galau)...
Kuajak dia jelajahi dimensi otakku
Tawarannya sodorkan menu istimewa
Awalnya ragu tapi kukunyah juga
Kemarin aku jalan bernyanyi sendiri
Sangat menghibur lara teriak-teriak
Hampir kutabrak kenalan baru itu
Aku kaget dan maafku bertutur
Sebelumnya aku berjumpa senyum
Yang manja ukir lesung pipi
Cermatku hemat menerka sinis
Kenapa bisa hilang sekejap bisu
Sesaat sebelum terbang musnah
Disampingku ada tawa lebar lepas
Memojok sendiri sungkan bergaul
Ingin menegur tapi aku malu
Minggu setelahnya aku reriungan
Sesat tak menetu arah tujuan
Bahuku ditepuk pelan dari belakang
Menoleh riang aku terkagum-kagum
Siang tadi mataku berminyak tidur
Aku loncat tinggi ke angkasa
Berpegangan rajutan jala harapan
Melirik kebawah kutinggalkan janji
Kenalanku melambaikan kanannya
Bagai fatamorgana samar di gurun
Sehingga tergambar tarian alam
Pura-pura aku tak kenal dia
Maafkan aku hatiku...
Desir darahku sesak nafsu
Jasadku bermateri angka
Urat nadiku dialiri ego
Detak jantungku iramanya syahwat
Yang kuhirup konon intan dunia
Yang kuhembus kotoran ambisi
Langkahku menuju ingkar
Peganganku tiang hasrat
Sekujur tubuhku adalah mahkota-mahkota gengsi...
Aku fanakan peluang hidupku
Aku malu padamu, hatiku...
Pintaku,
Esok lusa dan entah sampai kapan
Teruslah rasuki aku, kelabui aku, pukul aku
Dan kita kembali bersama tuju
Seperti sedia engkau menemani tangisan pertamaku di dunia ini...
Tatkala sang pencipta mempersatukan kita untuk hidup dan mati hanya menghamba juga menyembah cinta-Nya
Gundah lagi (bukan galau)...
Senin, Februari 02, 2015
Peristiwa Lingkar
Hujan dan tetesan surganya
Sebuah berkah tak terkira
Dianggap cinta oleh perenung
Namun duka bagi pekerja
Panas dan segala teriknya
Satu pesan tak pututs-putus
Petaka karena sketsa neraka
Tapi cahaya penembus batas
Embun dan sajak kehidupan
Dingin damai hembusan nafas
Reriungan para pencari jalan
Sebagian menunggu di-seberang asa
Ada pun senja menerawang jagat
Turun mengepung kegelapan nilai
Dijadikan pucuk dan puncak
Hadir sebagai oase pembeda
Masih tentang jalanan hitam
Jelmaannya hirup ganti hisap
Dipesta-porakan digemilangkan
Dihayati direnungi dipanjatkan
Yang Sembunyi
Hai malam gelap ketika diam
Anatomi ruangmu sungguh dalam
Engkau sajikan putaran-putaran cakram
Sebagai dua sisi yang saling hantam
Hai malam penuh kilauan bintang
Kedip titik cahaya kecil bergelimang
Bebas di angkasamu nan luas membentang
Sungguh ketakjuban diucap lantang
Hai sang gelap yang berjalan bisu
Dendam menyala di ujung lidah palsu
Misterimu bertutur ihwal rasa ragu
Sangat banyak gumam anggapan tabu
Wahai waktu yang menutup langkah
Hampir semua nyenyak dalam lelah
Kecuali segelintir jiwa yang tabah
Melawan mimpi juga rayuan sampah
Wahai ruangan yang terbungkus suci
Satu tempat terbaik untuk menepi
Dikala bisik sempat berani menyanyi
Cintamu pasti namun bersembunyi
Wahai hembusan udara yang konon murni
Engkau datang membawa sejuta fantasi
Yang dikabarkan jaman selalu abadi
Namun cintamu masih tersembunyi
Anatomi ruangmu sungguh dalam
Engkau sajikan putaran-putaran cakram
Sebagai dua sisi yang saling hantam
Hai malam penuh kilauan bintang
Kedip titik cahaya kecil bergelimang
Bebas di angkasamu nan luas membentang
Sungguh ketakjuban diucap lantang
Hai sang gelap yang berjalan bisu
Dendam menyala di ujung lidah palsu
Misterimu bertutur ihwal rasa ragu
Sangat banyak gumam anggapan tabu
Wahai waktu yang menutup langkah
Hampir semua nyenyak dalam lelah
Kecuali segelintir jiwa yang tabah
Melawan mimpi juga rayuan sampah
Wahai ruangan yang terbungkus suci
Satu tempat terbaik untuk menepi
Dikala bisik sempat berani menyanyi
Cintamu pasti namun bersembunyi
Wahai hembusan udara yang konon murni
Engkau datang membawa sejuta fantasi
Yang dikabarkan jaman selalu abadi
Namun cintamu masih tersembunyi
Langganan:
Komentar (Atom)