Minggu, Februari 08, 2015

Cinta Menjelang

Sekilat petir itulah pertemuan kita
kaget berdengung hilang sekejap
engkau hadir merona abu-abu
bertuan sesal parau kulirihkan

Bahwa,
lama sudah aku mencari
bentuk cinta yang gugah jiwa
satu belaian tak habis-habis
tanpa syarat tanpa tuntutan

Dimana,
jalanan aspal ataupun bebatuan
terjal menjulang curam menikam
lengkingan menukik tajam tikungan
semuanya bermukim pijakan buntu

Adakah proses tempaan yang lain?

***
Kesan sinis menjalar di wajah
seperti curiga rendahkan martabat
duri-duri cengeng berceceran kehampaan
belum seberapa proses bertuah

Cinta lebih daripada seungkap kata
pengorbanan berjuang harus geser ego
jalanlah terus melingkari bola jagad
sampai bertemu kagum besarnya alam

Masih ada gunung, hamparan padang
belum tentang ombak lautan
atau garis lintang bujur membentang

Celotehmu singkat berkoar-koar
kau tambahkan, kau serukan tanya
amarahmu melebihi pengetahuan
jujurmu terlalu dini dikobar angkuh

Sesederhana itu perjalanan cinta?
ketusmu seketika
Murah! Pasar! Obral!
telunjukmu menempel di dahiku

Engkau ceramahi aku bertubi-tubi
kias buih menguap rata berkhotbah
namun aku bukanlah pecundang teri
yang gentar diguncang sangkaan

***
Baiklah, baiklah...
apalagi?
coba sodorkan padaku?
kau contohkan saja semau-maumu

Gunung katamu?
padang dan gurun?
lautan bergelombang serta samudera?
jarak beribu-ribu satuan tempuh?
hanya itu yang kau punya?

Cuih!
remeh!
kelingkingku terpetik jempol
jawabku enteng di ujung lidah

Aku tempuh semuanya
SEMUANYA!
apapun medannya tak secuil kutu nyaliku ciut
se-centipun tak goyah surut

Hahaha,
kamu lucu bahkan cenderung lugu
contoh dimensimu sejengkal otak
layaknya tumpukan skripsi di perpustakaan kampus-kampus

Coba, apalagi yang bisa kau uji?
hei, bicaralah, ayo katakan!
peras akalmu, remas keras-keras

Atau memang kau cuma punya itu?
aduh, aku kasihan padamu
pada anatomi nilaimu
dasar picisan!
tamsilmu gampangan, pinggiran

Keadaan berbalik,
angin memilih lebih menyukaiku
sedang kamu?
berterima kasilah pada kesempatan

***
Dengarkan ini pasang telingamu

Aku butuh seusatu yang abadi
luhur setara udara
perbedaan kita sungguh kental
aku inginkan esensi, kau beri materi

Begini, dengarkan lebih saksama

Cinta itu bukan perangkat materi atau jasad
cinta itu bersemayam dalam sukma
aku mengejar resapan ruhnya
bukan numerik algoritma nol satu nol

Jangankan gunung lautan, gurun,
dan semua yang kau contohkan

Itu hanya kulit terluar dari deret lapisan segmen cinta
karena cinta jujur tak berumur
karena cinta berdzikir cinta

Ini bukan filosofis cinta
tapi tentang darimana filsafat itu berpijak

Aku mengarah ke sumber atom
inti cakrawala hati yang semesta
gugusan antarespun kalah luasnya
apalagi sekadar galaksi bima sakti

Logam mulia dibalik fenomena pelangi
tercipta dan bersembunyi triliunan pixel warna
kamera secanggih apapun tak sanggup mendeteksi
terlebih susunan daya belantara panca

Ahsanu taqwim kata Sang Pemiliknya

Itulah puncak paling pucuk
tak ada perumpamaan bisa mewakili
karena jika tergenggam relung nurani
niscaya tak rapuh luput walau hayat menjelang

Menunggu hatrick tahajjud (catatan hp).

Tidak ada komentar: