Sekilat petir itulah pertemuan kita
kaget berdengung hilang sekejap
engkau hadir merona abu-abu
bertuan sesal parau kulirihkan
Bahwa,
lama sudah aku mencari
bentuk cinta yang gugah jiwa
satu belaian tak habis-habis
tanpa syarat tanpa tuntutan
Dimana,
jalanan aspal ataupun bebatuan
terjal menjulang curam menikam
lengkingan menukik tajam tikungan
semuanya bermukim pijakan buntu
Adakah proses tempaan yang lain?
***
Kesan sinis menjalar di wajah
seperti curiga rendahkan martabat
duri-duri cengeng berceceran kehampaan
belum seberapa proses bertuah
Cinta lebih daripada seungkap kata
pengorbanan berjuang harus geser ego
jalanlah terus melingkari bola jagad
sampai bertemu kagum besarnya alam
Masih ada gunung, hamparan padang
belum tentang ombak lautan
atau garis lintang bujur membentang
Celotehmu singkat berkoar-koar
kau tambahkan, kau serukan tanya
amarahmu melebihi pengetahuan
jujurmu terlalu dini dikobar angkuh
Sesederhana itu perjalanan cinta?
ketusmu seketika
Murah! Pasar! Obral!
telunjukmu menempel di dahiku
Engkau ceramahi aku bertubi-tubi
kias buih menguap rata berkhotbah
namun aku bukanlah pecundang teri
yang gentar diguncang sangkaan
***
Baiklah, baiklah...
apalagi?
coba sodorkan padaku?
kau contohkan saja semau-maumu
Gunung katamu?
padang dan gurun?
lautan bergelombang serta samudera?
jarak beribu-ribu satuan tempuh?
hanya itu yang kau punya?
Cuih!
remeh!
kelingkingku terpetik jempol
jawabku enteng di ujung lidah
Aku tempuh semuanya
SEMUANYA!
apapun medannya tak secuil kutu nyaliku ciut
se-centipun tak goyah surut
Hahaha,
kamu lucu bahkan cenderung lugu
contoh dimensimu sejengkal otak
layaknya tumpukan skripsi di perpustakaan kampus-kampus
Coba, apalagi yang bisa kau uji?
hei, bicaralah, ayo katakan!
peras akalmu, remas keras-keras
Atau memang kau cuma punya itu?
aduh, aku kasihan padamu
pada anatomi nilaimu
dasar picisan!
tamsilmu gampangan, pinggiran
Keadaan berbalik,
angin memilih lebih menyukaiku
sedang kamu?
berterima kasilah pada kesempatan
***
Dengarkan ini pasang telingamu
Aku butuh seusatu yang abadi
luhur setara udara
perbedaan kita sungguh kental
aku inginkan esensi, kau beri materi
Begini, dengarkan lebih saksama
Cinta itu bukan perangkat materi atau jasad
cinta itu bersemayam dalam sukma
aku mengejar resapan ruhnya
bukan numerik algoritma nol satu nol
Jangankan gunung lautan, gurun,
dan semua yang kau contohkan
Itu hanya kulit terluar dari deret lapisan segmen cinta
karena cinta jujur tak berumur
karena cinta berdzikir cinta
Ini bukan filosofis cinta
tapi tentang darimana filsafat itu berpijak
Aku mengarah ke sumber atom
inti cakrawala hati yang semesta
gugusan antarespun kalah luasnya
apalagi sekadar galaksi bima sakti
Logam mulia dibalik fenomena pelangi
tercipta dan bersembunyi triliunan pixel warna
kamera secanggih apapun tak sanggup mendeteksi
terlebih susunan daya belantara panca
Ahsanu taqwim kata Sang Pemiliknya
Itulah puncak paling pucuk
tak ada perumpamaan bisa mewakili
karena jika tergenggam relung nurani
niscaya tak rapuh luput walau hayat menjelang
Menunggu hatrick tahajjud (catatan hp).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar